8 Manfaat Kurma Yang Terbukti Dari Hasil Riset Ilmiah

8 Manfaat Kurma

Kurma atau Dates adalah buah yang memiliki banyak manfaat. Berikut adalah 8 manfaat dari Kurma. Penelitian ilmiah juga telah dilakukan lengkap dengan jurnal publikasinya (link kami sertakan, klik untuk mempelajari jurnal ilmiahnya).

1. Kaya Nutrisi

Kurma memiliki kandungan nutrisi yang sangat baik. Pada umumnya kurma disajikan dalam bentuk buah kering sehingga kandungan kalorinya lebih tinggi daripada kebanyakan buah segar. Kandungan kalori kurma mirip dengan buah kering lainnya seperti kismis dan buah tin (1).

Sebagian besar kalori dalam kurma berasal dari karbohidrat. Sisanya berasal dari protein yang sangat sedikit. Disamping itu kurma mengandung beberapa vitamin dan mineral penting dan juga kaya akan serat.

Kurma juga mengandung antioksidan tinggi, yang dapat berkontribusi banyak terhadap manfaat kesehatannya (2).

2. Kaya Serat

Cukup serat penting bagi kesehatan. Dalam 100 gram kurma terkandung 7 gram serat. Serat dapat bermanfaat bagi kesehatan pencernaan dengan mencegah sembelit (3). Dari penelitian makan 7 butir kurma rutin setiap hari dalam 21 hari akan bermanfaat meningkatkan frekuensi buang air besar(4).

Selanjutnya, serat dalam kurma bermanfaat untuk mengontrol gula darah. Serat memperlambat pencernaan dan dapat membantu mencegah kadar gula darah meningkat terlalu tinggi setelah makan (5). Ini bisa dilihat dari kurma memiliki indeks glikemik rendah (GI), yang mengukur seberapa cepat gula darah Anda naik setelah makan makanan tertentu (6).

3. Kaya Antioksidan untuk Menangkal Penyakit

Antioksidan melindungi sel-sel Anda dari radikal bebas, yang merupakan molekul tidak stabil yang dapat menyebabkan reaksi berbahaya dalam tubuh Anda dan menyebabkan penyakit (7).

Dibandingkan dengan buah plum dan tin kering, kurma memiliki kandungan antioksidan tertinggi (8).

Berikut adalah tiga jenis antioksidan yang terdapat di buah kurma:

  • Flavonoid, adalah antioksidan kuat yang dapat membantu mengurangi peradangan dan telah dipelajari untuk potensi mereka untuk mengurangi risiko diabetes, penyakit Alzheimer dan beberapa jenis kanker (2, 9).
  • Karotenoid, terbukti dapat meningkatkan kesehatan jantung dan juga dapat mengurangi risiko gangguan terkait mata, seperti degenerasi makula (2, 10).
  • Asam fenolat, dikenal karena sifat anti-peradangannya, asam fenolat dapat membantu menurunkan risiko kanker dan penyakit jantung (11, 12).

4. Bagus untuk Kesehatan Otak

Memakan kurma dapat membantu meningkatkan fungsi otak.

Penelitian laboratorium telah menemukan kurma yang berguna untuk menurunkan penanda inflamasi di otak (interleukin 6 (IL-6)). Tingkat IL-6 yang tinggi dikaitkan dengan risiko penyakit neurodegeneratif yang lebih tinggi seperti Alzheimer (13, 14).

Selain itu, penelitian pada hewan telah menunjukkan kurma yang berguna untuk mengurangi aktivitas protein beta amiloid, yang dapat membentuk plak di otak (13). Ketika plak menumpuk di otak, mereka dapat mengganggu komunikasi antara sel-sel otak, yang pada akhirnya dapat menyebabkan kematian sel otak dan penyakit Alzheimer (15).

Satu penelitian pada hewan menemukan bahwa tikus yang diberi makanan yang dicampur dengan kurma memiliki memori dan kemampuan belajar yang lebih baik, serta perilaku yang kurang terkait kecemasan, dibandingkan dengan mereka yang tidak memakannya (16).

Sifat-sifat penguat otak yang potensial dari kurma telah dikaitkan dengan kandungan antioksidan yang diketahui dapat mengurangi peradangan, termasuk flavonoid (13).

Namun, penelitian pada manusia diperlukan untuk mengkonfirmasi peran kurma dalam kesehatan otak.

5. Mendukung Persalinan Alami

Makan kurma selama beberapa minggu terakhir kehamilan dapat meningkatkan dilatasi serviks dan menurunkan kebutuhan akan induksi saat persalinan (19). Juga berkhasiat mempercepat proses persalinan (17).

Dalam sebuah penelitian, 69 ibu hamil yang mengkonsumsi 6 kurma per hari selama 4 minggu sebelum HPL (hari perkiraan lahir) memiliki kemungkinan 20% lebih tinggi untuk persalinan secara alami dan waktu yang lebih singkat dibanding ibu hamil yang tidak memakan kurma (18).

Kurma memiliki peran penting dalam kehamilan karena adanya senyawa yang mengikat reseptor oksitosin dan muncul untuk meniru efek oksitosin dalam tubuh. Oksitosin adalah hormon yang menyebabkan kontraksi persalinan saat melahirkan (18, 20).

Selain itu, kurma mengandung tanin, yang merupakan senyawa yang membantu memfasilitasi kontraksi. Juga merupakan sumber gula alami dan kalori yang baik, diperlukan untuk menjaga energi selama persalinan (20).

6. Pemanis Alami yang Sangat Baik

Kurma merupakan sumber fruktosa, yang merupakan jenis gula alami yang ditemukan dalam buah. Oleh karena itu kurma sangat manis dan juga memiliki rasa seperti karamel yang halus. Cocok sebagai pengganti gula pasir. Buatlah pasta dari kurma untuk persediaan dengan perbandingan 1:1 (kurma:air).

Perlu diingat bahwa kurma memiliki kalori yang tinggi jadi konsumsinya harus dibatasi terutama bagi anda yang memiliki berat badan berlebih.

7. Potensi Manfaat Kesehatan Lainnya

Kurma telah diklaim memiliki beberapa manfaat kesehatan lain yang belum diteliti secara luas.

  • Kesehatan tulang: kurma mengandung beberapa mineral seperti fosfor, kalium, kalsium, dan magnesium. Ini bermanfaat mencegah osteoporosis (1, 21).
  • Pengendali gula darah: hal ini karena indeks glikemik rendah, mengandung serat dan kaya antioksidan. Cocok untuk diet penderita diabetes (2).

8. Mudah Ditambahkan ke Diet Anda

Kurma sangat serbaguna dan membuat camilan lezat. Sering dipadukan dengan makanan lain seperti almond, selai kacang atau keju lunak.

Kurma juga sangat lengket, yang membuatnya berguna sebagai pengikat dalam makanan yang dipanggang, seperti kue dan bar.

Anda dapat menggunakan kurma untuk mempermanis saus, seperti salad dressing dan bumbu-bumbu, atau memadukannya ke dalam smoothie dan oatmeal.

Referensi:
(1) http://nutritiondata.self.com/facts/fruits-and-fruit-juices/7348/2
(2) https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3992385/
(3) https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3544045/
(4) https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/26428278/
(5) https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3257631/
(6) https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3112406/
(7) https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3614697/
(8) https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/15670984/
(9) https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/28641164/
(10) https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/18949591/
(11) https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4348321/
(12) https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/25863633/
(13) https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4994443/
(14) https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/8892354/
(15) https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2813509/
(16) https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4484046/
(17) https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/29033994/
(18) https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/21280989/
(19) https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/28286995/
(20) https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5637148/
(21) https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17092827/

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.