Mitos Salah #3: Minyak Esensial untuk Bayi, Tidak Perlu Diencerkan

Ini adalah seri tulisan ke 3 (terakhir) berkaitan dengan penggunaan minyak esensial untuk bayi yang diambil dari situs http://www.foodrenegade.com/. Setelahnya akan kita tambah artikel yang berkaitan dari situs lainnya. Mumpung lagi semangat dan seru tentang penggunaan bahan-bahan alam berkaitan dengan bayi.

Mitos Salah yang ke-3 adalah persepsi orang “minyak essensial terbuat dari alami, pure 100% oleh karena itu sangat aman digunakan kepada bayi tanpa perlu aturan”. Tidak semua sesuatu yang alami (tanpa bahan kimia) itu aman justru banyak kita temui di sekitar kita berbahaya bagi tubuh. Misal tidak semua daun aman dikonsumsi karena bisa jadi mengandung racun dan lain sejenisnya.

essential-oil-myth-neat-dilution-babies-safe

sumber gambar: http://www.foodrenegade.com/


Pengaruh apa yang bisa timbul jika kita menggunakan minyak esensial tanpa diencerkan? reaksi yang paling mungkin terjadi adalah kulit iritasi atau kemerahan.

Hal ini tidak hanya karena kulit bayi lebih tipis dan lebih sensitif, juga karena bayi memiliki sistem kekebalan tubuh yang belum matang sehingga belum mampu menangani pengaruh luar secara sempurna, baik itu lewat kulit maupun terhirup/tertelan.

Kebanyakan aromatherapists tidak merekomendasikan penggunaan Essential Oil untuk anak di bawah usia dua tahun. Biasanya akan diberikan alternatif berupa Hydrosols dan Herbal yang lebih aman digunakan secara langsung untuk bayi/anak usia bawah 2 tahun, atau bahkan 6 tahun.

Pembuatan minyak esensial yang menjadikannya sangat konsentrat, 30 ml minyak esensial bisa jadi terbuat dari berton-ton daun. Mengencerkan minyak esensial juga bertujuan meminimalkan reaksi efek samping, juga agar meningkatkan penyerapan ke kulit dan fungsi menjadi lebih efektif.

Jumlah pengenceran tergantung dari beberapa faktor; usia anak, jenis minyak esensial, dan tujuan ketika diaplikasikan ke kulit.

Ketika mengencerkan parameter yang biasa digunakan adalah beberapa tetes essential oil ditambah dengan minyak lain dalam ukuran sendok teh, sendok makan, atau dalam mili liter.

Anda dapat mempelajari panduan dalam pengenceran pada link berikut: Properly Diluting Essential Oils.

Jenis pengencer (carrier) bisa berupa minyak, lotion, lidah buaya, atau ditambahkan pada air mandi, atau lemak susu. Minyak pengencer juga kadang memiliki manfaat therapeutic juga dan fungsi minyak esensial untuk memperkaya. Sebagai contoh, minyak alpokat bagus digunakan saat terapi bekas luka karena memiliki sifat regenerasi sel. Minyak kelapa (VCO) pilihan yang cocok untuk kulit sensitif dan VCO kaya akan Asam Lemak Esensial (EFAs). Trauma oil bagus untuk campuran pengurang rasa sakit (analgesic) karena terbuat dari gabungan herbal arnia, calendula, dan St. John’s Wort herbs. Trauma oil digunakan untuk mengatasi badan-badan yang pegal. Lebih lengkapnya tentang daftar pengencer (carrier) bisa dibaca pada link berikut: What Carriers to Use.

Reaksi yang terjadi jika menggunakan essential oil tanpa pengenceran atau kurang cukup encer maka anda akan melihat perubahan pada kulit yang diaplikasikan. Perubahan itu bisa berupa kemerahan, iritasi, gatal, atau dalam beberapa kasus reaksi terjadi ketika terkena sinar matahari (disebut fototoksisitas).

Sumber: http://www.foodrenegade.com/undiluted-essential-oils-for-babies-busted-essential-oil-myth-3/

Tulisan Berseri dari:

Leave a Reply